Posted 1 day ago
psychofactz:

More Facts on Psychofacts :)

Proses untuk menyadari kesalahan itu ibarat ‘medan perang’ bagi diri sendiri. Cara memenangkannya adalah dengan menyesali dan berusaha tidak mengulangi..Semakin dewasa seseorang, bila ia bijak, semakin banyak ‘peperangan’ yang ia menangi.. itulah mengapa kita perlu mendengarkan mereka.

—agar kita terhindar dari kesalahan yang sama; mereka ingin kita jadi lebih baik dari mereka, kau tahu kan

psychofactz:

More Facts on Psychofacts :)

Proses untuk menyadari kesalahan itu ibarat ‘medan perang’ bagi diri sendiri. Cara memenangkannya adalah dengan menyesali dan berusaha tidak mengulangi..

Semakin dewasa seseorang, bila ia bijak, semakin banyak ‘peperangan’ yang ia menangi.. itulah mengapa kita perlu mendengarkan mereka.

—agar kita terhindar dari kesalahan yang sama; mereka ingin kita jadi lebih baik dari mereka, kau tahu kan
Posted 2 days ago

Sekumpulan buku cerita yang membentuk gambar saat digabungkan.

Ada yang pernah dengar nama Kak Eka Wardhana? Sewaktu kecil, aku suka membaca karya-karya beliau. Bahkan saat sudah berusia dua puluhan seperti ini, aku masih menyukai cerita-cerita itu.

Tebak apa. Buku-buku ini juga karya beliau.

Yup.

(Buku-buku ini tiba di kosan setelah aku membujuk Ummi membeli mereka untuk koleksi perpustakaan SD tempat Ummi mengajar. Selagi transit di kosan, aku bisa nebeng membaca buku-buku menggemaskan ini :D FYI, mereka adalah KIPAS alias Kisah Para Sahabat.)

Posted 3 days ago

frinholic:

Yuk perhatikan juga makanan kita saat lebaran, mari jaga kesehatan. :)

Ya ampun. Ini keren.

Posted 3 days ago

simhasanam:

China’s Hui Muslim women during Ramadan

The Muslim Hui are an ethnic minority granted significant autonomy and allowed to devoutly follow their religion in a region where Islam thrives. As part of a tradition dating back to the late 19th century and unique to China’s 10 million Hui Muslims, hundreds of female Imams lead all-female congregations in the women’s only mosques of northwest China. 

photographed by Kevin Frayer (x)

Tiba-tiba terpikir ingin berkeliling dunia dan mengunjungi komunitas muslim di masing-masing tempat. Seorang guru pernah berpesan bahwa nikmat Islam adalah nikmat yang patut kita syukuri dan kita jaga hingga akhir hayat..

Wah, perlu belajar bahasa asing lagi dong ya :”

P.s. : btw, unik juga ya ada tempat kegiatan khusus muslimah semacam itu di sana :’)
Posted 3 days ago

Have a nice book :)

Dari sekian banyak buku motivasi, karya Dr. Ibrahim Elfiky adalah favoritku. Beliau menyertakan ayat-ayat Al Qur’an dan hadits dalam tulisannya, juga hasil-hasil penelitian yang pernah beliau lakukan atau beliau pelajari.

Kombinasi ayat qauliyah dan ayat kauniyah :”

Allah Maha Besar.

Posted 3 days ago
Tidak adanya tujuan yang jelas dalam kehidupan seseorang membuatnya tidak memaksimalkan kemampuan yang dianugerahkan Allah. Jika demikian, hidupnya menjadi sia-sia, dihantui rasa takut, dan cemas menghadapi masa depan. Orang yang tidak memiliki tujuan yang jelas bagaikan berjalan di tengah kegelapan. Hidupnya hambar, kehilangan semangat, kepribadiannya menjadi lemah. Ia akan mudah dipengaruhi hal-hal negatif dan diombang-ambingkan kehidupan.
Dr. Ibrahim Elfiky, dalam “Terapi Berpikir Positif”
Posted 3 days ago

Eid Mubarak :)

—originally created by Fifah and Arnov

Posted 4 days ago

Kali Ini, Lebaran di Bandung

Jika pada suatu hari nanti anak-anak memintaku bercerita, kisah ini akan menjadi salah satu favoritku. Kisah mengenai kehidupan para dokter dan calon dokter di kala hari raya Idul Fitri.

Kisah ini dimulai dengan aku sebagai gadis pengamat, mendapati kelompok kecil koas kami berada di bagian forensik saat lebaran tiba. Kelompok kecil kami tidak mendapatkan libur seperti teman-teman yang lain. Sebagian besar mendapatkan libur sejak Sabtu pekan lalu. Beberapa teman di bagian lain baru mendapatkan jatah pulang setelah menjalani tugas jaga di malam takbiran hingga keesokan paginya. Selepas shalat Id, mereka tentu dapat melesat menuju daerah masing-masing untuk berkumpul dengan sanak saudara. Namun kami, sebagai dokter muda forensik, mendapatkan tanggung jawab lebih untuk berjaga jikalau ada tugas yang menuntut kami untuk datang segera ke rumah sakit.

Sederhananya, kami tidak pulang. Aku tidak pulang. Waktunya menikmati lebaran di daerah sekitar rumah sakit :)

Beberapa hari sebelum lebaran, aku menikmati posisiku sebagai pengamat suasana 10 hari terakhir Ramadhan di Bandung. Beberapa masjid besar di Bandung menyediakan program i’tikaf yang membuat Ramadhan semakin bermakna. Tempat favoritku adalah di Masjid Habiburrahman tempat biasa aku dan teman-teman mengikuti tahfizh. Biasanya, imam di sana membaca 3 juz dalam satu kali qiyamullail dengan bacaan yang menyentuh hati :) Selain itu juga ada taushiah pada malam dan pagi harinya.

Pada malam takbiran, aku memilih mengisi waktu dengan teman-teman di kelompok kecilku. Memasak :) Setelah shalat Id, siang harinya, kami berencana mengadakan kegiatan shilaturrahim dan makan bersama. Setiap orang menyumbang makanan, minuman atau alat makan untuk kegiatan tersebut. ‘Keluarga’ yang dipersatukan oleh nasib. Hihihi.

Pada hari H Idul Fitri, kami melaksanakan shalat di lapangan parkir rumah sakit. Aku menikmati udara pagi yang kuhirup menuju lapangan tersebut. Aku menikmati pemandangan keluarga yang berbondong-bondong mendatangi masjid di tempat lain untuk melaksanakan shalat Id. Bahkan, aku mengalami sebuah kejadian konyol pagi ini. Tetiba setelah bangun tidur, teman sekamarku berujar bahwa di jalan di depan kontrakan kami akan dilangsungkan shalat Idul Fitri. Woohoo. Jadilah kami bersegera bersiap-siap berangkat sebelum jalanan penuh oleh tetangga yang akan shalat. Maaf ya Pak, Bu, kami baru tahu. Hehe.

Setiba di lapangan, teman-temanku menggelar sajadah di tempat yang disediakan. Karena aku masih berhalangan untuk shalat dan tidak ada tempat yang memadai untuk duduk, aku berbalik arah ke mesko (baca: mes koas, tempat kami biasa mangkal kalau sedang kebagian istirahat saat jaga). Aku berpapasan dengan para residen (baca: dokter yang sedang mengambil pendidikan spesialis) di sekitar IGD. Mereka membawa mukena dan sajadah menuju lapangan rumah sakit. Namun ada satu hal yang membuatku tertegun: mereka masih memakai baju jaga. Mereka menjalani hari raya jauh dari keluarga untuk merawat pasien-pasien yang datang ke rumah sakit. Masya’ Allah. Aku mengamati wajah separuh mengantuk yang terbasuh air. Aku menebak-nebak, setelah shalat mungkin mereka akan melanjutkan tugas jaga lagi. Di perjalanan menuju mesko, aku berpapasan dengan beberapa residen dan koas lagi. Dua orang residen yang kukenal sampai meminjam mukena dan sajadah di mesko karena mereka lupa membawanya :”

Ternyata, aku (memang) tidak sendirian. Kami telah menjadi kesatuan: dokter dan calon dokter. Aku tidak sendirian. Ada Pak Sopir Ambulans yang masih setia mengantar pasien ke rumah sakit. Juga ada Pak Satpam yang menjaga gedung. Juga ada Pak Polisi di pos mudik sekitar rumah sakit yang menertibkan jalanan sepanjang lebaran.

Ada kalanya rindu pada keluarga memuncak pada saat-saat seperti ini. Lebaran kali ini, aku hanya menjumpai keluargaku via telepon dan saling berkirim foto. Namun ibuku mengingatkan, bila aku meluruskan niat karena Allah dan untuk melayani ummat, insya’ Allah aktivitasku di manapun aku berada akan mendapat nilai kebaikan.

Semoga kebaikan-kebaikan itu akan menjadi catatan amal yang membuat Allah ridha, sehingga aku dan keluargaku juga bisa berkumpul di surga :’)

Aamiin.

Taqabbalallaahu minna wa minkum shiyaamanaa wa shiyaamakum.
Semangat selalu tuk menjadi hamba yang bertaqwa :)

Salam hangat dari sahabatmu,
Nur Afifah

Senin, 1 Syawwal 1435 H.

Posted 5 days ago
Barangsiapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, niscaya Dia memperbaiki hubungannya dengan orang lain. Barangsiapa memperhatikan urusan akhiratnya, Allah akan memperhatikan urusan dunianya. Barangsiapa menjadi penasihat bagi dirinya sendiri, Allah akan menjadi penjaganya.
Ali bin Abi Thalib r.a.
Posted 5 days ago

Melihat buku ini di rak toko buku dan langsung jatuh hati :’)

Unik.
Simple.
Asyik.