Posted 7 hours ago

Beribadahlah sebanyak dan sebaik yang kamu bisa, karena pada suatu hari saat kamu tak mampu melakukan ibadah-ibadah itu, kamu akan merindukannya.

Sangat rindu..

Posted 18 hours ago

Saat Iman Berbicara

irinepraptiningtyas:

Katanya, saat iman berbicara, ia menembus batasan ruang dan waktu, “Sederhanakan saja. Ia akan mengurus segala”.

Katanya, saat iman berbicara, ia melepaskan diri dari belenggu logika dan rasa, “Hey, bahkan ada yang lebih manusiawi dari itu semua”.

Dan katanya, saat…

Tentang setiap ketakutan yang muncul akan masa depan..

Bukankah keimanan itu melahirkan keberanian?
Syaja’ah.

Keimanan itu menjadi sumber harapan.
Keimanan itu menjadi mata air sabar dan syukur..

Benahi lagi, Non.

Posted 2 days ago

'Istana Kedua', aku ingat judul salah satu cerita bersambung karya Mbak Asma di Majalah Ummi saat aku SD (atau SMP?). Tak banyak yang aku mengerti. Hanya 3 tokoh yang kuingat namanya: Arini, Pras dan Mei Rose.

Sampai buku ‘Surga yang Tak Dirindukan’ yang dulunya pernah juga diterbitkan sebagai ‘Istana Kedua’ ini kupinjam dari teman kosanku. Pada usia 21 ini, aku mengerti semuanya. Aku mengerti jalan cerita dan tenggelam dalam curahan hati tokoh di dalam novel ini. Dan.. hm, aku menangis. Membayangkan diriku sebagai perempuan (dan ya, aku memang perempuan), aku paham bagaimana perih yang dihadapi Arini saat mengetahui bahwa Pras telah membangun istana kedua di luar istana mereka, juga bagaimana Mei Rose tumbuh menjadi sosok perempuan yang keras dan merasa berhak bahagia dengan kehadiran Pras. Tapi, bukankah di antara keduanya ada Pras, seorang laki-laki, makhluk yang konon jauh lebih banyak menggunakan logikanya dibandingkan perempuan? Mengapa ia bisa mematahkan prinsip dan logikanya sendiri dengan alasan yang tak seberapa kuat? Mengapa ia tidak mampu mencegah dilema semacam ini terjadi dalam kehidupannya, Arini dan Mei?

Aku bertanya-tanya. Jangan-jangan, saking seringnya laki-laki menggunakan logika, sebagian dari mereka tak tahu bagaimana menghadapi dirinya sendiri saat perasaan yang lebih meraja? Mereka takluk pada komando perasaan dan melupakan sama sekali konsekuensi atas tindakan yang akan mereka ambil berdasarkan perasaan itu. Aku memang bertanya-tanya.

Suatu hari nanti, aku ingin mengajarkan anak laki-lakiku (jika Allah mengizinkan) tentang bagaimana mendengarkan logika dan perasaan dengan bijaksana. Jangan sampai saat ia dewasa, saat simfoni cinta dimainkan dalam dunianya, ia melupakan nalar dalam memainkan orkestra kehidupan. Hingga justru menyisakan luka yang tak pernah ia harapkan pada diri orang-orang yang ia sayangi. Orang-orang yang seharusnya ia lindungi.

Dan anak-anak, tentu saja, mereka berhak tumbuh dengan baik dan dipenuhi kehangatan. Bukan gigil beku yang menyelimuti jiwa seperti kisah gadis penjual korek api.

p.s.: di akhir novel ini, Mbak Asma menyimpulkan hikmah yang berharga terkait dunia poligami, maka para laki-laki, kalau kalian bisa memaksakan diri untuk membaca novel (sebagian besar laki-laki yang kukenal tak menyukai bacaan fiksi), bacalah. Bacalah agar kalian mengerti.

Posted 3 days ago

7 Hobi yang Mulai Dilupakan Orang

widyarifianti:

Masuk ke era digital, kita mengalami pergeseran kebiasaan. Kamu dulu mungkin punya hobi yang kini sekarang sudah jarang kamu lakukan atau mungkin tinggal kenangan.

1. Baca Buku

Nggak usah sok mengelak, biarpun kamu ngaku masih suka baca buku, tapi frekuensinya nggak sesering dulu kan? Iya,…

Ikutan ngaku juga deh -_-

Nomor 1 jadi lebih berkurang. Ini nih yang bikin grr sama diri sendiri, masa buat belajar atau baca buku serius jadi susah banget, giliran pegang hp nggak sadar waktu. Nomor 2 juga jadi berkurang, meskipun hobi ngoleksi perangko edisi khusus masih jalan kok :”

Kalau urusan nulis blog, tetep, lebih seru daripada nulis status aja. Hehe.

Peace.

Posted 4 days ago
Posted 1 week ago

Keduanya Punya Sisi Positif dan Negatif

Aku pernah menjadi koleris. Aku pernah menjadi phlegmatis. Keduanya punya sisi positif dan negatif. Termasuk saat menjadi pemimpin.

Koleris memang tampak menyebalkan, ia tegas dan bahasanya kadang ‘intimidatif’. Tapi bukan artinya koleris itu penjahat yang bisa mengancam kedamaian dunia. Bahkan bisa jadi koleris, diam-diam, adalah orang yang sangat lembut hatinya. Saat ia menjadi pemimpin, ia akan banyak mengevaluasi diri dan bergegas mencari solusi tatkala ada rakyatnya yang terampas haknya. Meski buah simalakama adalah apabila ia tak berhasil mengelola emosinya dengan baik, ia akan menjadi pribadi yang sering meledak dan melukai perasaan banyak orang.

Phlegmatis memang pecinta kedamaian. Terpancar dari wajah yang sederhana dan tutur kata yang apa adanya. Ia sangat peka dan memiliki keinginan kuat untuk mengerti. Ia menyapa dengan rendah hati dan mendengarkan dengan kesabaran yang menyenangkan. Meski buah simalakama apabila ia tak berhasil menegaskan diri dalam keputusan-keputusan besar yang menyangkut kepentingan banyak orang, dirinya akan kehilangan banyak hal yang harusnya dapat diselamatkan dengan segera.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa pemimpin-pemimpin besar memiliki berbagai tipe kepribadian dasar yang beraneka ragam. Bukan artinya keras itu jahat dan lembut itu lemah. Masing-masing punya sisi positif dan negatif. Sayangnya, sisi positif itu bisa hilang bila kita memandang seseorang dengan pertimbangan emosi semata. Saat membaca berita mengenai realita, jangan lupa sesuaikan dengan konteksnya.

Posted 1 week ago

Perihal Quick Count, aku tidak membela nomor satu atau nomor dua. Aku tidak menyalahkan lembaga yang menyatakan nomor satu menang atau nomor dua menang.

Aku akan menunggu hasil Real Count. Tak perlu meributkan hasil riset sementara dengan notabene pengambilan sample sebagai sumber data yang diolah untuk mendapat simpulan. Toh aku bisa menikmati data dari total populasi seselesai KPU melakukan tugasnya :)

Jadi, alihkan tenaga dan emosi untuk hal-hal lain yang lebih bermanfaat, sembari menunggu ;)

Posted 1 week ago

Aku tahu canda itu lucu. Tapi, bahkan, dalam hal yang lucu sekalipun, kita tak boleh melanggar rambu-rambu kebenaran. Meski di akhir canda itu ada yang menambahkan, “Itu nggak beneran kok.”

Kalimat-kalimat yang kamu sampaikan, tak bisa lagi ditarik bila sudah didengar atau dibaca orang lain. Berhati-hatilah.

Lisanmu memang seperti 2 sisi pedang.

Posted 1 week ago
Kalau kau ingin mendapatkan pedang yang tajam dan berkualitas, janganlah mencarinya di pasar apalagi di tukang loak, tapi datang dan pesanlah langsung dari pandai besi. Begitupun dengan cinta dan teman dalam hidup, jika kau ingin mendapatkan cinta sejati, maka minta dan pesanlah pada Yang Maha Menciptakan.
nasihat seorang ayah pada anaknya, dituliskan oleh Sultan Hadi dalam Majalah Tarbawi Edisi Khusus 2011
Posted 1 week ago
Hidup yang Anda jalani saat ini adalah pancaran pikiran, keputusan dan pilihan Anda. Jika Anda rela menerima tantangan, berarti Anda telah merintis perubahan, kemajuan dan perkembangan.
Dr. Ibrahim Elfiky